Selasa, 04 Desember 2012

komunikasi massa

Komunikasi massa adalah komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan media massa pada sejumlah besar orang. Komunikasi massa bisa juga diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar heterogen dan anonym melalui media cetak atau media eletronik sehingga pesan yang sama dapat disampaikan secara serempak dan sesaat.
Perkembangan media massa semakin hari semakin berkembang, hal ini terjadi karena masyarakat yang semakin hari semakin membutuhkan informasi dalam waktu yang cepat. Seorang ilmuan "James Potter menyatakan, kini manusia hidup dalam dua duna yaitu dunia  dan dunia media”. Demikian dekatnya media massa dengan kehidupan masyarakat kini hingga banyak ahli mengatakan bahawa kini dierlukan ke mampuan melek media (media lieracy), yakni “The ability to interpret mindfully theposstive and negative meanings and effect of the media messeage you encounter instead of acceping unquestioningly the images presented in those messeage“.(Gamble dan Gamble)
Melalui komunikasi massa kita dapat mengetahui informasi secara cepat dan up to date  dan melalui komunikasi massa terutama media internet dunia serasa lebih dekat dan tidak ada alasan kita untuk tidak mengetahui  informasi .

SISTEM KOMUNIKASI MASSA

Sistem komunikasi massa diadakan untuk menyamaratakan media-media baik itu media cetak maupun elektronik dalam menentukan konsep dibidangnya seperti media televisi. Mereka mengkonsep suatu stasiun televisi dalam konteks menghibur atau sebagai sumber berita.
Para ahli DeFleur dan Dennis melihat komunikasi massa sebagai proses. Menurut mereka, bterdapat  lima tahap membentuk proses komunikasi massa, yaitu sebagai berikut.
  1. Pesan komunikasi diformulasikan  oleh komunikator-komunikator  profesonal.
  2. Pesan komunikasi dikirimkan melalui cara yang relative cepat dan berkelanjutan melalui penggunaan media.
  3. Pesan tersebut mencari khalayak yang besar dan beragam yang memilih media dengan selektif.
  4. Para anggota khalayak secara individual menafsirkan pesan tersebut dengan cara sedemikian rupa sehingga mereka memahami makna yang kurang lebih sejajar dengan maksud komunikator.
  5. Sebagaian hasil dar pengalaman member makna ini, para anggota  khalayak dipengaruhi dalam cara tertentu ataudengan kata lain, komunikasi tersebut member pengaruh lain
A.    KOMUNIKATOR PROFESIONAL
Komunikator professional adalah seseorang yang bekerja di salah satu bagian dari industry komunikasi, seperti : wartawan, editor, produser, sutradara, pemusik, dan lain sebagainya. Mereka bertugas untuk memberikan informasi kepada khalayak meskipun mereka tidak mengenal khalayak satu per satu.
Gamble & gamble menyebutkan karakteristik komunikasi massasebagai berikut :
  1. Mencapai khalayak yang banyak dan tidak diketahui secara personal pengirimnya.
  2. Khalayak heterogen (beragam).
  3. Menggunakan medium / alat tertentu.
  4. Pesan  yang dibawahnya bersifat public.
  5. Pengirimya adalah organisasi  formal ; pesan bukan dihasilkan oleh perorangan.
  6. Dokontrol oleh banyak Gatekeepers. Para Gatekeeper (seperti  editor atau redaktur) menyeleksi isi media yang akandisajikan kepada khalayak. Mereka yan mengolah isi pesan sedemikian rupa sebelum akhirnya muncul media untuk komunikasi khalayak
Menurut Gamble & gamble, Komunikasi massa adalah “The process of transmitting massages that mayne processed by gatekeepers before being transmitted to large audience via chanel of broad diffusiom, suchas print, an audio, or visual medium". 
Jalaludin Rahmat merangkum : “Komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonym melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang samadapat diterima secara serentak dan sesaat. “
B.    PERBEDAAN KOMUNIKASI MASSA DAN KOMUNIKASI TATAP MUKA
Menurut DeFleur dan Dennis perbedaan terjadi dalam hal komunikasi menggunakan media,konsekuensi mempunyai khalayak luas dan beragam serta pengaruh social dan cultural, berikut uraiannya :
1. Konsekuensi Menggunakan Media
Memasukan unsur media ke dalam komunikasi antar dua  individu jelaslah menciptakan perbedaan. Karena dengan kita memilih media kitapu dapat memilih feedback  yang kita inginkan dengan konsekuensi gangguan dari media itu sendiri.
2. Konsekuensi memiliki khalayak luas dan beragam
khalayak yang sangat luas dan beragam memiliki dampak penting terhadap bentuk dan isi komunikasi tersebut. Khalayak tersebut tak dikenal oleh komunikator, maka si penyampai pesan ini harus meladaskan diri pada asumsi-asumsi tertentu agar ia bisa yakin bahwa pesannya bisa di terima dan dipahami oleh mayoritas khalayaknya. Cara termudah adalah dengan mengamsumsikan bahwa khalayak tersebut memiliki kapasitas intlektual yang terbatas, senan dihibur, dan memiliki ketertarikan rendah untuk terlibat dalam subjek dangkal.
3. Pengaruh social dan cultural
Komunikasi dalam bentuk dan tingkat apapu, terikat dan terbentuk oleh beragam aturan alam masyarakat. Dalam hal komunikasi massa, aturan-aturan tersebut akan jauh lebih beragam dan rumit, dan akan semakin rumit seandainya yang berlangsung adalah komunikasi antarnegara atau antarbudaya.
Menurut Elizabeth dan Noelle-neuman terdapat 4 tana pokok dari komunikasi massa yang tidak terdapat pada komunikasi interpersonal, yaitu:
a.      Bersifat tidak langsung
b.      Bersifat searah
c.       Bersifat terbuka
d.      Memiliki public yang tersebar secara geografis.
System komunikasi massa memiliki karakter psikologis yang khas dibandingkan dengan system komunikasi interpersonal, karena hal ini nampk pada
a.                  Pengendalian arus informasi
b.                  Umpan balik
c.                   Stimulasi alat indra
d.                  Proposi unsure isi dengan unsure hubungan
KHALAYAK MEDIA MASSA
Khalayak merupakan prinsip dasar ketiga bagi beroperasinya media massa. Mcluhan menguraikan perkembangan sejarah berdasarkan penggunaan media massa menjadi dua babak, yaitu:
1.  Situasi kosumsi/pengguna media
Jeffer membedakan antara media seeking dan content seeking. Media seeking adalah situasi dimana kita mengguakan media karena tindakan konsumsi itu(membaca, menonton medengar). Sebaliknya, pada content seeking kita memutuskan menggunakan media justru karena isinya.
2. Pola pengguna media oleh individu
Pola pengguna media tergntung oleh individu tersebut. Menurut jeffres, perbedaan ini dapat dilihat dari dua pendekatan, yaitu sebagai berikut :
a. Pendekatan kategori social
Kategori ini menjelaskan mengapa individu menggunakan media secara berbeda-beda. Kategori social tersbut antara lain, pendidikan, pekerjaan, jenis kelamin, status perkawinan, ras, etnik dan agama.
b. Pendekatan  Uses and Gratifications 
Dalam model ini menfokuskan perhatian kepada penerima pesan yang menjadikan individu sebagai mahluk rasional dan superrasional. Penekanan pada psikologis terhadap kepuasan kebutuhan massa.
William ,McGuire (1974) menggolongkan 3 motif yang mempengaruhi kahlayak menggunakan media, diantaranya :
  1. Motif Kognitif adalah motif yang menekankan kebutuhan manusia akan informasi dan kebutuhan untuk mencapai tingkat ideasional tertentu.
  2. Motif Afektif adalah menekankan aspek perasaan dan kebutuhan mencapai tingkat emosional tertentu. Motif afektifkan yang dtujukan untuk memeihara stabilitas psikologis.
  3. Reaksi kahalayak terhadap media
Melvin deFleur dan Sandra Ball-Rokeach menjelaskan reaksi khalayak terhadap media dapat dilihat dari tiga perspektif yaitu :
  1. Perspektif perbedaan individual memendangbahwa sikap dn organisasi personal-psikologis individu akan menentukan bagaimana ia memberikan makna pada stimuli dari lingkungan dan bagaimana ia memberikan makna pada stimuli itu. Faktor-faktor yang mempengeruhi itu meleputi potensi biologis,sikap,nilai, kepercayaan, serta pengalaman. Perbedaan ini menyebabkan pengaruh media massa yang berbeda pula.
  2. Perspektif Kategori social berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok social yang reaksinya pada stimuli tertentu itu cenderung lama. Anggota-anggota kategori tertentu akan cenderung memilih isi komunikasi yang sama dan akan member respon kepadanya dengan cara yang hamper sama pula.
  3. Perspektif hubungan social menekankan pentingnya peranan hubungan social yang informal dalam mempengaruhi reaksi orang terhadap media masa. Dengan demikian, hubungan-hubungan interpersonal dapat berpengaruh pada proses penerimaan pengelolaa, dan penyampaian informasi dari media
EFEK MEDIA MASSA TERHADAP INDIVIDU

Menurut Steven Chaffe ada 3 pendekatan dalam melihat efek media massa, yaitu :
  1. Pendekatan yang pertama ialah cendrung melihat efek media massa, baik yang berkaitan dngan pesan maupun media itu sendiri.
  2. Pendekatan yang kedua adalah melihat jenis perebuhan yang terjadi pada diri khalayak komunikasi massa. Perubahan ini meliputi kognitif (penerima informasi), perubahan efektif (perubahan perasaan atau sikap), dan perubahan behavioral (perubahan prilaku).
  3. Pendekatan yang ketiga adalah dengan meninjau satuan observasi yang dikenai efek komunikasi massa, meliputi individu, kelompok, organisasi, masyarakat, atau bangsa.
A. EFEK KEHADIRAN MEDIA MASSA (SECARA FISIK)
Steven Chaffe menyebutkan ada 5 efek media massa dari kehadirannya, yaitu :
  1. Efek ekonomis, kehadiran media massa menggerakkan usaha yang meliputi produksi, distribusi dan konsumsi jasa media massa.
  2. Efek social, efek ini berkenaan dengan perubahan struktur atau interaksi social akibat kehadiran media massa.
  3. Efek penjadwalan kembali kegiatan sehari-hari, seperti halnya film kartun di tv setiap hari membuat anak-anak menggeser waktu belajarnya.
  4. Efek pada peyaluran/penghilangan perasaan tertentu, media massa ini digunakan tanpa mempersoalkan isi yang disiarkannya.
  5. Efek pada perasaan orang terhadap media, media ini dapat menumbuhkan perasaan tertentu baik negative maupun positif.
B. EFEK PESAN MEDIA MASSA 
  •  Efek kognitif
Komunikasi massa tiak secara langsung menimbulkan prilaku tertentu, tapi endrung mempengaruhi cara kita mengorganisasikan citra kita tentang lingkungan. Citra inilha yang mempengaruhi cara kita berprilaku. Citra terbentuk berdasarkan informasi yang diterima oleh individu melalui media massa, realitas yang ditampilkan media adalah realitas yang sudah diseleksi atau disebut realitas tangan kedua (second hand reality). Karena proses selektif ini terjadi penggambaran yang salah oleh media dan timbullha apa yang disebut strereotype, yaitu gambaran umum tentng individu, kelompok, atau masyarakat yang tidak berubah-rubah seringkali timpang dn tidak benar.
  • Efek afektif
Perubahan sikap yang berarti akibat pesan media massa masih menjadi perdbatan di kaangan ahli komunikasi.
Charles K. Atkin menyimpulkan bahwa media massa dapat mempengaruhi orientasi efektif, tetapi dampaknya tidak sebesar orientasi kognitif.
Media massa dapat menimbulkan rangsangan emosional terhadap khalayak. Para peneliti menemukan factor-faktor yang mempengaruhi intesintas rangsangan emosional pesan media massa. Adalah sebagai berikut :
  1. Suasana emosioal (mood)
  2. Suasana kognitif
  3. Suasana terpaan (setting exposure)
  4. Predisposisi individual
  5. Tingkat idenfikasi khalayak dengan tokoh media massa.
Joseph R. Dominick dalam ulasannya teradap studi-studi efek media massa menunjukan ada 3 wilayah prposial yang memperoleh banyak perhatian, yaitu :
a. Efek terapik (therapeutic effect)
Menunjukan media dapat mendorong sikap-sikap positif, seperti keberanian. Media ini dapat membantu anak-anak mengatasi phobia-phobia psikologis.
b. Pengembangan kendali diri 
c. Kerja sama, membagi dan membantu
Media ini mengajarkan nilai-nilai kebaikan tentang perlunya bekerja sama, perlunya membagi dengan teman, serta membantu teman.
Dengan demikian, terlihat media massa dapatberpengaruh positif dan juga negative pada khlayak dan individu. Kembali harus diingat bahwa pengaruh-pengaruh media massa ini tak bersifat langsung dikebanyakan individu.
C. MEDIA SEBAGAI AGEN SOSIALISASI
Media massa semakin berperan sebagai agen sosialisasi bagi individu, yakni yang menanamkan pengetahuan, sikap, dan nilai pada masyarakat.
Pada akhirnya harus juga dinyatakan, hubungan media massa dengan prilaku individu ini tidak dapat diintrepretasikan semata-mata sebagai satu arah. Sangat mungkin hubungan antara terpaan media dengan sikap-sikap tertentu yang disajikan bersifat resiprokal ( timbal-balik).

Rabu, 28 November 2012

KONSEP DIRI ( Self-Concept )

A. PENGERTIAN DIRI (SELF-CONCEPT)

Konsep diri adalah pikiran dan keyakinan seseorang mengenai dirinya sendiri.Deskripsi seorang anak kecil, adalah contoh sederhananya, misalnya ”saya berumur 8 tahun”, “saya penari terbaik dikelas”, atau “saya yang paling bodoh di kelas”.
 
William D. Brooks mendefinisikan konsep diri sebagai “ persepsi yang bersifat fisik, social,dan psikologis, mengenai diri kita, yang didapat dari pengalaman dan interaksi kita dengan orang lain”.

Jadi, konsep diri adalah pandangan dan perasaan tentang diri kita. Persepsi tentang diri ini dapat bersifat psikologis, social, dan fisis (Rakhmat,2003). Misalnya, anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diri anda:


Bagaimana watak saya sebenarnya?
Apa yang membuat saya bahagia dan sedih?
Apa yang sangat mencemaskan saya?

Bagaimana orang lain memandang saya?
Apakah mereka menghargai atau merendahkan saya?
Apakah mereka membenci atau menyukai saya?

Bagiamana pandangan saya tentang penampilan saya?
Apakah saya orang yang menarik atau jelek?
Apakah tubuh saya kuat atu lemah?

Jawaban pada tiga pertanyaan pertama adalah persepsi psikologis tentang diri Anda. Jawaban pada tiga pertanyaan berikutnya adalah persepsi social. Jawaban pada tiga pertanyaan terakhir adalah persepsi fisis tentang diri Anda. Dengan demikian, konsep diri bukan sekedar gambaran deskriptif tentang diri, tetapi juga penilaian tentang diri Anda.

B. SUMBER-SUMBER KONSEP DIRI

1. Self-Esteem


Self-esteem (harga diri) adalah penilaian, baik positif atau negative, individu terhadap diri sendiri. Tingginya self-esteem merujuk pada tingginya estimasi individu atas nilai, kemampuan, dan kepercayaan yang dimilikinya. Sedangakan self-esteem yang rendah melibatkan penilaian yang buruk akan pengalaman masa lalu dan pengharapan yang rendah bagi pencapaian masa depan.
Orang dengan self-esteem tinggi memiliki sikap positif terhadap dirinya. Mereka merasa puas dan menghargai diri sendiri, yakin bahwa mereka mempunyai sejumlah kualitas baik, dan hal-halyang patut dibanggakan. Self –esteem mempengaruhi perilaku komunikasi seseorang. Orang dengan self-esteem tinggi akan lebih lentur dalam menaggapi situasi yang dihadapi meskipun itu situasi yang sulit karena mereka mampu menerima diri sendiri apa adanya, daripada orang dengan self-esteem rendah.
Harga diri merupakan salah satu komponen konsep diri. Konsep diri mempunyai dua komponen; komponen kognitif dan komponen afektif (Rakhmat,2003). Bisa jadi komponen kognitif berupa, “saya ini bodoh” dan komponen afektif berupa, “saya senang saya bodoh, ini lebih baik bagi saya”. Bisa jadi komponen kognitifnya sama, tetapi komponen afektifnya, ”saya malu sekali karena saya bodoh”. Komponen afektif inilah disebut harga diri. Adapun komponen kognitif disebut self-image (citra diri).

2. Social Evaluation (Penilaian Sosial)

Kebanyakan informasi tentang diri sendiri tidak kita dapatkan dari perenungan atau refleksi diri, melainkan dari orang lain. Keyakinan Anda tentang pendapat orang lain terhadap Anda akan mempengaruhi perilaku dan keinginan Anda untuk berubah atu tidak.
Proses evaluasi social ini termasuk di dalamnya Reflected appraisal (pantulan penilaian) atau direct feedback (umpan balik langsung) Apakah itu?



a. Reflected appraisal

Bagaimana orang lain memandang Anda? Bagaimana Anda hadir atau tampil di hadapan orang sangat mungkin berdasarkan pertimbangan dari tindakan dan perkataan orang tersebut terhadap Anda. Dalam banyak hal, pendapat kita tentang diri sendiri adalah cermin (refleksi atau pantulan) dari penilaian nyata orang lain terhadap kita. Pendapat yang dilontarkan orang ini kemudian berpindah menjadi pendapat kita. Perpindahan ini terjadi dengan mudah, dari “orang lain mengatakan bahwa saya bukan pendengar yang baik”, ke “Saya bukan pendengar yang baik”. Dengan menyimpulkan pendapat orang lain tentang Anda dan kemudian memakai pendapat tersebut sebagai pendapat Anda sendiri maka Anda memantulkan penilaian orang lain itu. Pantulan penilaian yang Anda lakukan tersebut kemudian masuk dalam self-concept Anda.

b. Direct feedback

Ketika orang lain -terutama significant others, seperti orang tua dan teman-teman dekat- menyatakan penilaiannya kepada kita maka kita menerima feedback (umpan balik) tentang kualitas dan kemampuan kita. Umpan balik langsung (direct feedback) ini lebih jarang terjadi dibanding reflected appraisals, tetapi merupakan sumber penting bagi self-concept seseorang
Beberapa teori kepribadian menunjuk pentingnya umpan balik langsung (direct feedback) bagi aktualisasi diri (self-actualization), yaitu perkembangan terhadap peningkatan kemampuan seseorang. Contoh, ketika Anda kecil, orang tua Anda mungkin berulang kali mengatakan “Kami sangat bangga jika Kamu bisa melakukan yang terbaik di sekolah”. Jika demikian maka Anda mengembangkan self-concept yang
rnudah karena Anda merasa cinta atau penghargaan dari orang lain memiliki syarat, yaitu bergantung pada perilaku Anda. Berdasarkan teori kepribadian humanistic, kemungiann besar anda akan menjadi orang dewasa yang bahagia dan sehat jika anda menerima direct feedback atau penghargaan secara positif oleh orang lain tanpa syarat bahwa cinta untuk Anda tidak bergantung pada perilaku tertentu anda.

C. TEORI-TEORI KONSEP DIRI



1. Social Comparison (Pembandingan social)


Menurut ahli psikologi social modern, Leon Festinger, social comparison theory membantu menjelaskan berbagai macam fenomena, termasuk keyakinan social, perubahan sikap, dan komunikasi kelompok.


Social comparison theory ini dibangun atas empat prinsip dasar, yakni berikut ini:

a. Setiap orang memiliki keyakinan tertentu.
b. Penting bagi keyakinan kita untuk menjadi benar.
c. Beberapa keyakinan lebih sulit untuk dibuktikan dibanding yang lainnya. Hal-hal yang tidak bisa    dibuktikan secara objektif mungkin dibuktikan secara subjektif melalui pembuktian bersama (membuat orang lain setuju).
d. Ketika anggota dari kelompok rujukan (refrence group) saling tidak setuju tentang suatu hal, mereka akan berkomunikasi hingga konflik tersebut terselesaikan.


2. Persepsi diri (Self-Perception)

a. Self-Attribution (Atribusi Diri)

Penelitian pada ekspresi emosi menguatkan penjelasan self-attribution ini. Dengan “memalsukan” emosi-marah-seseorang bisa membuat “tampak” nyata, suatu keadaan yang benar-benar dirasakan. Teori self-perception menjelakan bahwa ketika kita mencoba memahami bagaimana perasaan kita, kita melihatnya pada wajah kita:”saya tadi tersenyum, jadi saya menyangka tadi saya senang.”

b. Overjustification (Pembenaran yang Berlebih)

Proses self-perception bekerja dengan menyimpulkan maksud dan tujuan kita. Contoh: kita tahu bahwa seseorang dibayar mahal untuk suatu pekerjaan yang sulit. Ini mendorong kita untuk berkesimpulan bahwa uang –sebagai tujuan ekstrinsik- adalah motivasi utamanya.

D. HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KOMUNIKASI

Konsep diri merupakan factor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya (Rakhmat,2003).


Brook dan Emmert (dalam Rakhmat, 2003) menyebutkan ada lima ciri orang yang memiliki konsep diri positif :

1. Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.
2. Ia merasa setara dengan orang lain.
3. Ia menerima pujia tanpa rasa malu.
4. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.
5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena mengungkapkan kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.




Hamachek (dalam Rakhmat,2003) menyebutkan ada sebelas karakteristik orang yang memiliki konsep diri positif:
1. Ia meyakini betul-betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat.
Namun, ia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu apabila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukan bahwa ia salah.

2. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.

3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi di waktu lalu, dan apa yang telah terjadi di waktu yang lalu,dan apa yang sedang terjadi di waktu sekarang

4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuan untuk mengatasi persoalan. Bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.

5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu , latar belakang keluarga, atu sikap orang lain terhadapnya.


Adapun orang yang memiliki konsep diri negative adalah mereka yang memiliki ciri-ciri:

1. Peka terhadap kritik; artinya ia tidak tahan menerima kritik, mudah marah dan naik pitam. Baginya, koreksi dari orang lain sering kali dianggap sebagai usaha untuk menjatuhkan harga dirinya.

2. Sangat responsive dan antusias terhadap pujian. Baginya, segala hal yang menunjang harga dirinya menjadi pusat perhatiannya.

3. Hiperkrtis terhadap orang lain. Sikap ini dikembangkan sejalan dengan sikap kedua tadi; di satu pihak ia selalu ingin dipuji, tetapidi pihak lain ia tidak sanggup mengungkap penghargaan atau pengakuan akan kelebihan orang lain. Ia selalu mengeluh, mencela atau meremehkan apapun atau siapapun.

4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain. Ia merasa tak diperhatikan. Ia tidak mempermasalahkan dirinya, tetapi akan menganggap dirinya sebagai korban dari system social yang tidak beres. Ia menganggap orang lain sebagai musuh hingga tak dapat melahirkan kehangatan dalam berhubungan dengan orang lain.


Dari konsep diri yang positif akan lahir pola perilaku komunikasi interpersonal yang positif pula, yakni melakukan persepsi yang lebih cermat dan mengungkapkan petunjuk-petunjuk yang membuat orang lain menafsirkan kita dengan lebih cermat pula. Orang yang memiliki konsep diri positif adalah orang menurut istilah Sidney M. Jourard “tembus pandang” (transparent, yakni terbuka terhadap orang lain, Rakhmat,2003).

KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI

A. PENGERTIAN KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI DAN PENGEMBANGAN DIRI


1. Self-awareness (Kesadaran Diri)

Self-awareness (kesadaran diri) merupakan perhatian sesorang yang terfokus pada diri sendiri, perasaannya, nilai, maksud, dan/atau evaluasi dari orang lain.

2. Self-Schemata (Skema Diri)

Skemata merupakan kategorisasi gagasan mengenai stimuli yang dikembangkan oleh diri sendiri. Oleh karena itu, self-schemata adalah seperangkat susunan self-generalizations (hal-hal yang umum) dari diri seseorang, yang didapat dari penilaian yang dilakukan sendiri atau orang lain. Self-schemata mempengaruhi bagaimana Anda memperhatikan atau mengingat informasi dan kesempatan tentang diri sendiri. Contoh: self-schemata Anda meliputi “fisik yang tidak kuat”. Oleh karenanya Anda akan memikirkan skema ini sebelum mnyetujui bergabung dengan sebuah klub olahraga. Self-schemata mungkin akan membatasi kita, tetapi merupakan suatu hal yang bersifat dinamis, dapatberubah seiring perkembangan informasi dan pengalaman kita.

B. SELF-MOTIVATION (MOTIVASI DIRI)

1. Self-Consistency (konsistensi Diri)


a. insufficient justification

ketika seseorang berbuat sesuatu yang tidak mendapat pembenaran, mugkin dia akan membangun rasionaliatas –self-justification- untuk memulihkan self-consistency dirinya. Misalnya, Anda menghabiskan banyak uang untuk sebuah mobil yang sangat menarik perhatian Anda, tetapi tidak begitu disukai orang. Anda mungkin beralasan untuk diri sendiri maupun orang lain bahwa mobil itu merupakan investasi besar dan mempunyai nilai jual. Anda mungkin yakin akan hal ini, tapi alasan itu hanya untuk membenarkan uang yang telah dihabiskan.

b. Decision-Making (pembuatan Keputusan)

Self-justification juga dibuat dengan cepat setelah seseorang membuat suatu keputusan yang sulit. Contohnya , seseorang harus memutuskan kuliah apa yang harus ia hadiri dari dua pilihan kuliah. Keduanya merupakan kuliah yang penting, tetapi ia tetap harus memutuskan. Setelah memutuskan suatu pilihan, mungkin ia akan melihat beberapa masalah atau kekurangan pada kuliah yang tidak dipilih, dan menemukan manfaat/keuntungan atas pilihan yang ia buat. Alasan yang muncul setelah keputusan tersebut merupakan pembenaran atas pilihan yang telah diputuskan saat itu, yang singkat dan sulit.


2. Self-Enchancement (Peningkatan Diri)

Self-motivation yang besar adalah perlindungan dan pertahanan akan self-esteem (harga diri). Dikatakan bahwa banyak orang yang menderita karena self-esteem yang rendah. Teori kepribadian humanistic (humanistic personality theories) menyebutkan bahayanya evaluasi negative atas diri seseorang. Beberapa kecenderunagan self-enchacement terjadi melalui proses yang telah disebutkan, seperti donward comparisons, meyakinkan diri atas kelebihannya dari orang lain atau self-justifiction, untuk merasionalisasikan perilaku yang bertentangan dengan diri.


Diluar itu ada bentuk-bentuk lain self-enchacement, yaitu self-serving processes dan self-presentation processes.

a. Self-serving processes

Proses ini umumnya melibatkan tiga bentuk kognisi social yang diaplikasikan pada perlindungan terhadap self-esteem, yaitu:

1) Egocentric Bias (Bias Egosentris)

Egosentris atau pemusatan diri (self-conteredness) bisa membuat pengolahan dan pengingatan informasi menjadi bias. Ketika terpengaruh oleh bias egosentris, seseorang mengingat dengan lebih baik informasi yang relevan baginya. Salah satu bentuk bias egosentris dalam suatu hubungan adalah mnyatakan kontribusi dirinya lebih banyak dibanding yang lain.

2) False Comparison Effects (Efek Perbandingan Palsu)

Seperti telah di jelaskan, social comparison penting bagi perkembangan self-concept seseorang. Social comparison menimbulkan efek bagi penilalian dari perilaku positif atau negative seseorang. Misalnya, Anda telah melakukan sesutau yang baik dan patut di puji. Mungkin Anda memperkuat pendapat Anda sendiri dengan menyimpulkan bahwa hanya sedikit orang yang akan bertindak sama seperti Anda. Proses self-serving ini disebut dengan false-uniqueness effect (efek keunikan palsu). Akan tetapi, apabila Anda melakukan sesuatu yang buruk dan patut disalahkan, Anda mungkin meyakinkan diri bahwa orang lain pasti akan berbuat sama dalam kondisi yang sama pula. Ini disebut dengan false-consesus effect (efek konsesus palsu). Kedua hal tersebut merupakan bias-bias egosentris, yang dimotivasi oleh self-enchancement.

3) Beneffectance

Proses self-serving yang lain terjadi ketika mengambil kesimpulan tentang diri dari tindakan yang kita lakukan. Kecenderungan untuk mengedepankan hal-hal baik dari kesuksesan kita dan menjauhkan kegagalan kita disebut dengan beneffectance. Benefectance adalah bias dalam atribusi. Misalnya , Anda kecewa menonton tim sepak bola favorit Anda yang bermain buruk sehingga kalah. Kemudian, Anda mingkin akan terkejut membaca dimedia massa para pemain mengatakan bahwa penampilan yang buruk disebabkan oleh keadaan cuaca yang tidak bersahabat. Pada contoh ini, sudut pandang Anda sebagai pengamat lebih objektif, sedangkan sudut pandang para pemain sepak bola di penuhi dengan beneffectancd.

b. Self-Presentation (Penyajian Diri)

Banyak kognisi diri dimotivasi oleh perhatian terhadap penyajian diri (self-presentation). Terdapat tiga proses self-presentation:

1) Impression management

Dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain, kita bukan hanya menyampaikan atau menerima pesan, tetapi juga melakukan pengolahan kesan (impression management). Konsep ini datang dari sosiolog Erving Goffman. Ia mengatakan bahwa seseorang “tampil” di hadapan orang lain untuk mendapatkan kesan tertentu. Manusia secara sengaja menampilkan diri (self-presentation) seperti yang ia kehendaki. Peralatan lengkap yang ia gunakan untuk menampilkan diri ini disebut front. Front terdiri dari panggung (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner).

2) Social accounting

Ketika kita berhadapan dengan orang lain, bahkan dengan yang tidak kita kenal, kita merasa ada tekanan yang membuat kita bertindak semestinya. Mengapa demikian? Orang asing tidak kenal kita dan tidak tahu bagimananya kita , maka kita terlibat dalam
apa yang disebut social accounting untuk meyakinkan mereka. Salah satu bentuk social accounting adalah mimic muka, termasuk terlihat malu ketika kita terlibat dalam kesalahan atau tersenyum ketika melakukan kontak mata dengan orang lain. Bentuk lainnya adalah membuat excuses (alasan). Ini meliputi alsan sebenarnya (“Maaf saya tidak dengar, tolong diulangi”) dan alasan yang dibuat. Misalnya, Anda terlambat hadir di sebuah pesta , jika Anda mengatakan alasan sebenarnya mungkin akan melukai perasaan si empunya acara, oleh karenanya Anda berkata, “Saya minta maaf datang terlambat, tadi saya belok kearah yang salah”.

3) Self-Monitoring (Pengawasan Diri)

Self-monitoring yaitu pengawasan terhadap tindakan kita guna mencapai tujuan tertentu. Melalui pengawasan ini kita melakukan penyesuaian-penyesuaian atas tindakan-tindakan yang dilakukan atau hendak dilakukan. Ahli psikologi social menyebutkan dimensi ini dapat menyebabkan orang terlihat berbeda . Pada suatu keadaan, seseorang akan mempunyai self-monitoring yang tinggi terhadap situasi sosialnya dan berperilaku selayaknya. Ini disebut dengan high self-monitoring. High self-monitoring memberi perhatian lebih pada orang lain, melihat dan menaggapi orang lain untuk menyenangkan mereka. Mereka mengatakan hal-hal yang mereka pikir orang lain mau dengar atau memberi pendapat untuk menyenangkan orang lain. Sebaliknya, orang dengan low self-monitoring berperilaku konsisten pada situasi apapun, yaitu dengan mempertahankan nilai-nilai mereka, dan mengarahkan perilaku dengna prinsip yang dimiliki, bukna karena alasan pragmatis.










SIKAP DAN PERILAKU MANUSIA

Sikap Terdapat kaitan yang erat antara sikap dan perilaku manusia, sikap akan mengarahkan perilaku. Oleh karena itu, dalam hubungan interpersonal sikap akan berpengaruh pada pola-pola hubungan interpersonal yang di kembangkan. Dalam penjelasan tentang pengertian sikap yang akan anda pelajari berikut ini di sebutkan bahwa objek sikap dapat bersifat impersonal(bukan manusia), tetapi yang paling penting adalah sikap terhadap orang lain. Marilah kita mulai pembahasan sikap ini dengan pengertian sikap, kemudian ada model-model yang menjelaskan sikap,selanjutnya aspek-aspek sikap.

PENGERTIAN SIKAP Walaupun sikap(attitude) merupakan salah satu pokok bahasan yang penting dalam psikologi sosial, para pakar tidak selalu sepakat tentang definisinya. Sarwono (1997) mengemukakan beberapa pengertian sikap. Attitude is a favourable or unfavourable evaluative reaction toward somethingor someone, exhibited in one’s belief,fellings or ontended behavior (meyers,1996) An attitude is a disposition to responds favourably or unfavourably to an object, person, institution or event (azjeen, 1988). Attitude is a pychological tendency that is expressed by evaluating a perticular entity with some degree of favor or disfavor (eagly & chaiken,1992)

Sikap dapat didefinisikan sebagai posisi yang di ambil dan dihayati seseorang terhadap benda, masalah atau lembaga. Beberapa sikap bersifat abstrak, misalnya sikap terhadap demokrasi. Sikap-sikap lain dapat bersifat impersonal, misalnya sikap terhadap ganja itu jelek. Akan tetapi sikap yang paling penting adalah sikap terhadap orang lain (Soekaji, Sutarlinah, 1986).

Menurut weber, sikap adalah sebuah reaksi evaluatif (suatu penilaian mengenai kesukaan dan ketidaksukaan seseorang) terhadap orang, peristiwa atau aspek lain dalam lingkungannya.

Dari berbagai definisi tampak bahwa ciri khas dari sikap adalah sbg berikut.
1. Mempunyai objek tertentu(orang,perilaku,konsep,situasi,dan benda)
2. Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju,suka atau tidak suka) (Sarwono,S. 1997)

Bagaimana proses terjadinya sikap? Mengenai proses terjadinya menurut Sarwono,S.(1999) sebagian besar pakar berpendapat bahwa sikap dapat saja sikap dapat timbul tanpa ada pengalaman sebelumnya. Misalnya, orang yang sejak bayi tidak suka sayur.

    Model satu dimensi ( One-Dimensional Model )

Model ini merupakan model yang paling sederhana dalam menjelaskan sikap secara langsung, dalam arti suka atau tidak suka terhadap objek tertentu. Sikap disini amat jelas, positif atau negative sehingga hal ini dapat menjelaskan anda memilih untuk tidak menonton film tentang kekerasan karena anda memang tidak menyukainya (anda memiliki sikap negative tentang film kekerasan) dan akibatnya anda akan menghindari film yang banyak menampilkan kekerasan. 

MODEL TIGA KOMPONEN (Three-Componen Model ) Model ini lebih berkembang daripada model pertama. Model ini menjelaskan sikap dalam jangkauan yang lebih luas berdasarkan pengalaman psikologi. Disini dijelaskan, sikap menyangkut 3 dimensi, yaitu (a) pengalaman kognitif (seperti kepercayaan), (b) pengalaman efektif (emosi), dan (c) perilaku (pilihan dan tindakan).



PENGUKURAN SIKAP Ada beberapa tehnik yang biasa digunakan untuk mengatur sikap. Di bawah ini di kemukakan tiga skala pengukuran sikap.

1. Skala thustone

L.L THUSTONE (1887-1955) mengembangkan pendekatan statistic pertama dalam mengukur sikap. Dalam skala ini seorang peneliti mengembangkan serangkaian pernyataan tentang sikap objek. Setiap pernyataan kemudian disusun kedalam urutan secara numeric menurut skala positif negative misalnya kita urutkan skala sikap dari 1 sampai 10 tentang presiden George W Bush, dimana poin satu menunjukan sikap yang amat positif dan poin sepuluh menunjukan sikap yang amat negative sehingga’ saat ada pernyataan” George W Bush” adalah presiden terhebat yang pernah memimipoin amerika serikat ” bisa saja diberi poin satu : lalu pernyataan presiden tersebut adalah seseorag yang selalu melakukan hal yang terbaik bisa diberi poin tiga : dan pernyataan “ dapat diberi poin 10.
Skala thrustone di susun dengan meminta responden untuk membaca dafata pernyataan yang ada dan memberikan tanda atau poin pada pernyataan yang mereka setujui. Dari situ, poin-poimn yang mereka pilih akan di hitung dan di cari rat-ratanya untuk memperoleh skor sikap seseorang. Dari contoh di atas, untuk satu responden, bisa diperoleh SKOR 2.5. itu berarti, ia memiliki sikap yang cederung positif tentang presiden sementara responden dengan skor rata-rata 8.6 memiliki sikap sebaliknya.

2. Skala likert

Skala ini lebih sering digunakan daripada skala Thustone di atas. Rensis Likert (1903-1981) mengembangkan beberapa sikap. Responden kemudian memilih satu angka dari skala setuju sampai tidak setuju. Jumlah dari angka yang di pilih menunjukan sikap respondden terhadap hal ynag dimaksud. Misalnya, untuk mengetahui sikap kita tentang iklan rokok, kita akan di hadapkan pada serangkaian penyataan yang mendukung atau melawan iklan semacam itu. Setiap pernyataan di ikuti dengan serangkaian angka-angka, sebagai skala yang menunjukan persetujuan/penolakan. Skala yang di susun itu bisa berupa sebagai berikut ini. Amat setuju 1 2 3 4 5 Amat tidak setuju.
 Jika ada pernyataan “saya tidak senang iklan rokok” dan kita termasuk orang yang melawan iklan itu, kita pasti kan memilih angka yang lebih rendah 
( 1 atau 2 ). Sementara jika kita termasuk orang yang menyetujui iklan rokok, terhadap pernyataan tersebut “saya senang iklan rokok” sudah tentu kita akan memilih angka yang lebih tinggi ( 4 atau 5 ). Dengan menjumlahkan angka-angka yang di peroleh dari tiap penyataan, akan muncul nilai sikap kita dan intensitasnya.

3. Skala Semantic Differential

Tehnik pengukuran sikap ini datang dari Osgood,suci, dan Tannenbaum(1957). Sebagaimana di jelaskan Sarwono.S(1997), dasar teorinya adalah bahwa sikap orang terhadap suatu objek dapat di ketahui jika kita mengetahui konotasi(arti psikologi) dari kata yang melambangkan objek sikap itu. Satu sikap tertentu bisa memiliki makna atau kualitas evaluasi yang berbeda. Misalnya, satu sikap negative tentang iklan rokok bisa termasuk mempercayai bahwa iklan semacam itu menyebarkan kebohongan atau merasa marah saat melihat ada iklan rokok di suatu majalah. Dalam tehnik ini, seorang responden di minta untuk mengurutkan satu objek sikap dalam beberapa skala yang berbeda secara sistematik. Misalanya, kita akan memberikan nilai terhadap iklan rokok menurut skala berikut.
 Baik 1 2 3 4 5 Buruk Bagus 1 2 3 4 5 Jelek
Jujur 1 2 3 4 5 Tidak Jujur

Sehat 1 2 3 4 5 Tidak Sehat Setelah memberikan nilai atau poin, kita lau menghubungkan angka-angka itu yang nantinya akan terlihat satu pola penilaian yang berbeda dari satu responden yang lain. Sama seperti skala yang lain, sikap kita pun bisa dijumlahkan dan di beri kan nilai rata-rata.

 PEMBENTUKAN SIKAP Idealnya, sikap di bentuk dari pengalaman seseorang yang akan berfungsi sebagai penuntun perilakunya di masa dating. Para peneliti telah mengidentifikasikan tiga jenois pendekatan dalam memahami pembentukan sikap manusia, yaitu (1) pendekatan belajar, (2) pendekatan consistency cognitive, (3) pendekatan motivational, yang akan di uraikan secara rinci berikut ini.

1. Pendekatan belajar (learning approaches)

Sikap biasanya terbentuk lewat proses pembelajaran, suatu proses dimana pengalaman dan praktek menghasilkan perilaku yang relative sama atau tetap. Proses pembelajaran ini secara umum di identifikasikan dalam pembentukan sikap melalui :
a. Asosiasi
Asosiasi mengacu pada proses menghubungkan pengalaman-pengalaman yang amat dekat dari segi waktu, ruang atau keadaan. Dua bentuk pembentukan sikap melalui asosiasi adalah classical conditioning dan more exposure.

1) Classical Conditioning.

Sikap bisa saja merupakan serangkaian ide,perasaan,dan keinginan yang kompleks. Namaun, sikap bisa juga terbentuk dengan mengasosiasikan satu pengalaman dengan yang lain dan membuat respons yang umum terhadapnya. Belajar untuk membuat respons yang sama pada stimulasi yang diasosiasikan pada stimulus sebelumnya ittulah yang di sebut sebagai classical conditioning. Pada pengalaman emosional yang sederhana, perlakuan semacam ini bisa mengarah pada pembekuan sikap. Contoh yang bisa di ambil adalah ilustrasi berikut. Seorang anak di minta untuk mengikuti les matematika olh orangtuanya. Sementara anak itu sendiri tahu betul bhawa pelajaran itu sangat membosankan dan tidak menyenangkan. Apalagi sebelumnya ia pernah belajar matematika dalam suasana yang membosankan, tidak menyenangkan,dalam suasana yang tidak nyaman.


2) More Exposure

Pembentukan sikap yang paling jelas dapat di bentuk lewat pengalaman yang berulang-ulang dengan objek sikap, seperti manusia atau tampilan lingkungan yang sering kali di temui. Menurut psikolog Robert Zajonc, terpaan yang berulang-ulang itu biasanya akan menghasuilkan perasaan positif. Misalnya, iklan televisi yang sering kita tonton bisa berdampak pada kesukaan kita terhadap produk yg di iklankan. Apalagi kalu kita beranggapan produk itu memang di butuhkan dan menarik.




2. Pendekatan Konsistensi Kognitif ( Cognitive Consistency )

Sebagaimana dijelaskan sarwono,s (1991) teori-teori konsistensi kognitif berpangkal pada sebuah proposisi umum, yaitu bahwa kognisi (pengetahuan,kesadaran) tidak sesuai dengan kognisi-kognisi lain menimbulkan keadaan psikologi yang tidak menyenangkan. Dan keaadaan ini mendorong orang untuk bertingkah laku agar tercapai konsistensi antar kognisi-kognisi tsb, hal mana yang akan menimbulkan rasa senang. Keadaan inkonsisten, misalnya terjadi apabila kita melihat seorang mentri sedang makan di warung tenda pinggir jalan. Menteri dan warung tenda adalah dua kognisi yang tidak salaing berkaitan, bahkan mungkin saling berlawanan. Dengan demikian apabila kedua kognisi ini muncul sekaligus, timbul perasaan inkonsisten dalam diri kita, yang menyebabkan kita perlu melalakukan sesuatu agar timbul konsistensi yang menenangkan dalam diri kita. Misalnya, melihar orang tersebut sekali lagi untuk meyakionkan bahwa org itu bukan menteri (tetapi mirip dengan menteri) atau mengubah struktur kognitifdengan menyatakan kepada diri sendiri bahwa mentri adalah manusia kebanyakan yg sesekali juga ingin makan di warung pinggir jalan.

Hubungan inkonsisten antara kognisi di beri nama berbeda-beda oleh para ahli.

a.  Fritz Heider menamakan “ketidakseimbangan kognitif” (cognitive imbalance)
b.  Newcomb menamakannya “asimetri” (Asymetry)
c.  Osgood & Tannaenbaum menamakan “ ketidakselarasan” (ingongruence)
d. Festinger menamakannya “disonansi” (dissonance) hanya dapat digunakan dalm situasi-situasi tertentu). Oleh karenanya, disini yang akan di jelaskan adalah teori Fritz Heider, Newcomb, dan Festinger.